Jakarta — Kawasan Menteng Tenggulun, Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat, yang selama ini lekat dengan citra permukiman kumuh dan ketimpangan sosial, kini mulai bertransformasi menjadi kawasan produktif berbasis ekonomi rakyat. Transformasi tersebut ditandai dengan peninjauan langsung Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait terhadap progres penataan kawasan, bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Wali Kota Jakarta Pusat, Direktur Utama PNM, Direktur Utama SMF, serta 10 Banker Perempuan.
Kelurahan Menteng tercatat sebagai salah satu wilayah dengan tingkat ketimpangan tertinggi di Jakarta Pusat. Di kawasan ini, sekitar 26.000 warga tergolong kurang mampu, sementara sekitar 3.000 warga lainnya masuk kategori sangat mampu. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan penanganan kawasan kumuh yang tidak semata berorientasi pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Menteng Tenggulun diarahkan menjadi sentra kuliner rakyat yang tertata, layak, dan memiliki nilai ekonomi. Penataan kawasan dilakukan secara terpadu, mencakup perbaikan lingkungan permukiman, penguatan UMKM, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penataan akses dan fasilitas pendukung kawasan.
“Penanganan kawasan kumuh di Menteng ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Gotong royong antara pemerintah, BUMN, dunia usaha, asosiasi profesi, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan perubahan nyata,” ujar Menteri PKP Maruarar Sirait.
Seluruh program penataan kawasan Menteng Tenggulun dilaksanakan melalui semangat gotong royong tanpa menggunakan dana APBN. Kolaborasi ini melibatkan pemerintah pusat dan daerah, BUMN, dunia usaha, asosiasi profesi, serta masyarakat setempat.
Kementerian PKP berperan melalui intervensi renovasi rumah warga, sementara PNM dan SMF turut mendukung penguatan ekonomi masyarakat melalui pembiayaan, pendampingan, dan pelatihan usaha, khususnya bagi ibu-ibu penerima Program PNM Mekar.
Sebanyak 23 pelaku UMKM kuliner akan dibina secara langsung oleh para Banker Perempuan guna meningkatkan kualitas produk, tata kelola usaha, serta daya saing. Pendampingan ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya sentra kuliner berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Dari sisi penataan kawasan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pembenahan infrastruktur pendukung, mulai dari jalan lingkungan, trotoar, saluran air, MCK, hingga bantaran kali. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) turut menyiapkan desain kawasan serta desain untuk sekitar 50 rumah dan kios yang akan ditata pada tahap selanjutnya, guna mendukung aktivitas ekonomi dan pengembangan pariwisata kuliner.
Menteri PKP menegaskan bahwa penataan akses kawasan menjadi faktor krusial dalam menghidupkan ekonomi warga.
“Akses yang mudah sangat menentukan. Jika jalan menuju kawasan macet dan sulit dijangkau, ekonomi tidak akan bergerak. Penataan akses dan parkir juga bisa menjadi ruang pemberdayaan bagi anak-anak muda di sekitar,” tegasnya.
Selain itu, konsep pengelolaan sampah turut diintegrasikan dalam penataan kawasan. Warga akan dibina untuk mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomi, melalui program dari PNM bekerjasama dengan Bank Sampah RW setempat.
Sebagai langkah awal transformasi kawasan, Kementerian PKP telah memulai renovasi dua unit rumah warga di Menteng Tenggulun. Renovasi tersebut menjadi pintu masuk penataan kawasan secara menyeluruh, yang akan dilanjutkan dengan renovasi sekitar 52 rumah, penataan kawasan, serta pengembangan UMKM kuliner masyarakat.
Melalui pendekatan terpadu dan kolaboratif ini, Menteng Tenggulun diharapkan bertransformasi dari kawasan kumuh dan terpinggirkan menjadi sentra kuliner rakyat yang tertata, produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.